Senin, 27 Maret 2017

Pengertian dan Definisi Etika
Di dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini : – Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. – Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. – Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kitauntuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani yaitu “Ethos”, yang artinya watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang yang artinya juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, ialah moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan.
Pengertian dan Definisi Etika
Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su). Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.

Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu:

   Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).
   Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.
   Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelas¬kan tentang pembahasan Etika.
   Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini ialah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
   Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.


Definisi Etika Menurut Para Ahli :
1. Menurut Maryani dan Ludigdo
Etika ialah seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia,baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau prifesi.

2. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Etika ialah nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

3. Menurut Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Etika Nikomacheia,
Pengertian etika dibagi menjadi dua yaitu, Terminius Technicus yang artinya etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. dan yang kedua yaitu, Manner dan Custom yang artinya membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

4. Menurut Kamus Webster
Etika ialah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral.

5. Menurut Ahli filosofi
Etika ialah sebagai suatu studi formal tentang moral.

6. Menurut Ahli Sosiologi
Etika ialah dipandang sebagai adat istiadat,kebiasaan dan budaya dalam berperilaku.




















BEBERAPA TEORI ETIKA

   1.      Egoisme

Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

   2.      Utilitarianisme

Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).

Paham utilitarianisme dapat diringkas sebagai berikut :

   Tindakan harus dinilai benar atau salah hanya dari konsekuensinya (akibat, tujuan atau hasilnya).
   Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan.
   Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
   3.      Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.

   4.      Teori Hak

Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak dan kewajiban bagaikan dua sisi dari uang logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberi tekanan terbesar pada kewajiban, tapi sekarang kita mengalami keadaan sebaliknya, karena sekarang segi hak paling banyak ditonjolkan. Biarpun teori hak ini sebetulnya berakar dalam deontologi, namun sekarang ia mendapat suatu identitas tersendiri dan karena itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu teori hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Teori hak sekarang begitu populer, karena dinilai cocok dengan penghargaan terhadap individu yang memiliki harkat tersendiri. Karena itu manusia individual siapapun tidak pernah boleh dikorbankan demi tercapainya suatu tujuan yang lain.

Menurut perumusan termasyur dari Immanuel Kant : yang sudah kita kenal sebagai orang yang meletakkan dasar filosofis untuk deontologi, manusia merupakan suatu tujuan pada dirinya (an end in itself). Karena itu manusia selalu harus dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu tujuan lain.

   5.      Teori Keutamaan (Virtue Theory)

Dalam teori-teori yang dibahas sebelumnya, baik buruknya perilaku manusia dipastikan berdasarkan suatu prinsip atau norma. Dalam konteks utilitarisme, suatu perbuatan adalah baik, jika membawa kesenangan sebesar-besarnya bagi jumlah orang terbanyak. Dalam rangka deontologi, suatu perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan prinsip “jangan mencuri”, misalnya. Menurut teori hak, perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan hak manusia. Teori-teori ini semua didasarkan atas prinsip (rule-based).

Disamping teori-teori ini, mungkin lagi suatu pendekatan lain yang tidak menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan pada seluruh manusia sebagai pelaku moral. Teori tipe terakhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau akhlak seseorang. Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma. Namun demikian, dalam sejarah etika teori keutamaan tidak merupakan sesuatu yang baru. Sebaliknya, teori ini mempunyai suatu tradisi lama yang sudah dimulai pada waktu filsafat Yunani kuno.

Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Kebijaksanaan, misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous life).

Menurut pemikir Yunani (Aristoteles), hidup etis hanya mungkin dalam polis. Manusia adalah “makhluk politik”, dalam arti tidak bisa dilepaskan dari polis atau komunitasnya. Dalam etika bisnis, teori keutamaan belum banyak dimanfaatkan. Solomon membedakan keutamaan untuk pelaku bisnis individual dan keutamaan pada taraf perusahaan. Di samping itu ia berbicara lagi tentang keadilan sebagai keutamaan paling mendasar di bidang bisnis. Diantara keutamaan yang harus menandai pebisnis perorangan bisa disebut : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan. Keempat keutamaan ini berkaitan erat satu sama lain dan kadang-kadang malah ada tumpang tindih di antaranya. Kejujuran secara umum diakui sebagai keutamaan pertama dan paling penting yang harus dimiliki pelaku bisnis. Kejujuran menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran. Jika mitra bisnis ingin bertanya, pebisnis yang jujur selalu bersedia memberi keterangan. Tetapi suasana keterbukaan itu tidak berarti si pebisnis harus membuka segala kartunya. Sambil berbisnis, sering kita terlibat dalam negosiasi kadang-kadang malah negosiasi yang cukup keras dan posisi sesungguhnya atau titik tolak kita tidak perlu ditelanjangi bagi mitra bisnis. Garis perbatasan antara kejujuran dan ketidakjujuran tidak selalu bisa ditarik dengan tajam.

Ketiga keutamaan lain bisa dibicarakan dengan lebih singkat. Keutamaan kedua adalah fairness. Fairness adalah kesediaan untuk memberikan apa yang wajar kepada semua orang dan dengan “wajar” dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu transaksi. Insider trading adalah contoh mengenai cara berbisnis yang tidak fair. Dengan insider trading dimaksudkan menjual atau membeli saham berdasarkan informasi “dari dalam” yang tidak tersedia bagi umum. Bursa efek sebagai institusi justru mengandaikan semua orang yang bergiat disini mempunyai pengetahuan yang sama tentang keadaan perusahaan yang mereka jualbelikan sahamnya. Orang yang bergerak atas dasar informasi dari sumber tidak umum (jadi rahasia) tidak berlaku fair.

Kepercayaan (trust) juga merupakan keutamaan yang penting dalan konteks bisnis. Kepercayaan harus ditempatkan dalam relasi timbal balik. Ada beberapa cara untuk mengamankan kepercayaan. Salah satu cara adalah memberi garansi atau jaminan. Cara-cara itu bisa menunjang kepercayaan antara pebisnis, tetapi hal itu hanya ada gunanya bila akhirnya kepercayaan melekat pada si pebisnis itu sendiri.

   6.      Teori Etika Teonom

Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten, yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaimana dituangkan dalam kitab suci.

Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.

ETIKA ABAD KE-20

   Arti Kata “Baik” Menurut George Edward Moore
   Tatanan Nilai Max Scheller
   Etika Situasi Joseph Fletcher
   Pangdangan Penuh Kasih Iris Murdoch
   Pengelolaan Kelakuan Byrrhus Frederic Skinner
   Prinsip Tanggung Jawab Hans Jonas
   Kegagalan Etika Pencerahan Alasdair Maclntyre

TEORI ETIKA DAN PARADIGMA HAKIKAT MANUSIA

   Tampaknya sampai saat ini telah muncul beragam paham atau teori etika, dimana masing-masing teori mempunyai pendukung dan penentang yang cukup berpengaruh.
   Munculnya beragam teori etika karena adanya perbedaan paradigma, pola pikir atau pemahaman tentang hakikat hidup sebagai manusia.
   Hampir semua teori etika yang ada didasarkan atas paradigma tidak utuh tentang hakikat manusia.
   Semua teori yang seolah-olah saling bertentangan tersebut sebenarnya tidaklah bertentangan.
   Teori-teori yang tampak bagikan potongan-potongan terpisah ini dapat dipadukan menjadi satu teori tunggal berdasarkan paradigm hakikat manusia secara utuh.
   Inti dari etika manusia utuh adalah keseimbangan pada :

   Kepentingan pribadi, kepentingan masyarakat dan kepentingan Tuhan.
   Keseimbangan moral materi (PQ dan IQ), modal sosial (EQ) dan modal spiritual (SQ).
   Kebahagiaan lahir (duniawi), kesejahteraan masyarakat dan kebahgiaan batin surgawi.
   Keseimbangan antara hak (individu) dengan kewajiban kepada masyarakat dan Tuhan.


TANTANGAN KE DEPAN ETIKA SEBAGAI ILMU

Ilmu etika ke depan hendaknya didasarkan atas paradigma manusia utuh, yaitu suatu pola pikir yang mengutamakan integrasi dan keseimbangan pada :

   Pertumbuhan PQ, IQ, EQ dan SQ.
   Kepentingan individu, kepentingan masyarakat dan kepentingan Tuhan.
   Keseimbangan tujuan lahiriah (duniawi) dengan tujuan rohaniah (spiritual).

Hakikat utuh manusia adalah keseimbangan yang bisa diringkas sebagai berikut :

   Keseimbangan antara hak (teori hak) dan kewajiban (teori deontologi).
   Keseimbangan tujuan duniawi (teori teologi) dan rohani (teori teonom).
   Kesiembangan antara kepentingan individu (teori egoisme) dan kepentingan masyarakat (teori utilitarianisme).
   Gabungan ketiga butir di atas akan menentukan karakter seseorang (teori keutamaan).
   Hidup adalah suatu proses evolusi kesadaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agoes Sukrisno dan Ardana, I Centik (2011), Etika Bisnis dan Profesi-Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya, Penerbit Salemba Empat Jakarta












HUBUNGAN ETIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Akhir-akhir ini masalah yang paling menonjol hubungan antara ilmu dan etika. Pandangan para ahli filsuf bahwa ilmu bebas nilai dan objektif yang menyatakan bahwa ilmu merupakan alat untuk mempertahankan keadaan dan cara pikir yang mendorong terhadap kemajuan bangsa manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan oleh manusia tidak hanya sampai diperbuat tetapi juga harus mempertimbangkan apa yang seharusnya diperbuat. Pada dasarnya rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan ini haruslah sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman konsep bagaimana putusan tindakan manusia sebagai peneguh ilmu harus dilakukan.[1] B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah bagaimanakah hubungan antara etika dan ilmu pengetahuan ? C. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui hubungan antara etika dan ilmu pengetahuan. D. Manfaat Adapun manfaat dari makalah ini adalah mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara etika dan ilmu pengetahuan.
  2. BAB II PEMBAHASAN HUBUNGAN ANTARA ETIKA DAN ILMU PENGETAHUAN Pada dasarnya manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka hanya memfungsikan ilmu pengetahuan dalam arah yang tidak terbatas sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin akan diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Di mana manusia menjatuhkan pilihannya dalam memanfaatkan ilmu pengetahuannya amatlah nihil kebaikan yang diperoleh atau bahkan dapat menyebabkan kehancuran.[2] Ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang menjalin dan taat dari ungkapan-ungkapan yang bersifat benar tidaknya dapat ditentukan. Kalau demikian apapun yang dilaksanakan oleh sebuah ilmu pengetahuan ialah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang logis, sahih dan penilaian mengenai hal-hal yang memang demikian atau tidak. Jadi bukan tugasnya berbicara mengenai yang seharusnya demikian atau tidak sehingga etika dapat berperan dalam tingkah laku seorang ilmuwan.[3] Nilai menyangkut etika moral dan tanggung jawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk digunakan kemaslahatan manusia sehingga penerapannya juga punya bias negatif atau destruktif sehingga diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi ilmu pengethuan di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang akan menjadi well supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.[4] Menurut Charis Zubeir dalam bukunya Kajian Filsafat Ilmu; Dimensi Etik dan Astetik Ilmu Pengetahuan Manusia menyebutkan ada dua kelompok yang memandang hubungan ilmu pengetahuan dan etika. · Kelompok pertama memandang bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai, dalam hal ini fungsi ilmu pengetahuan selanjutnya terserah pada orang lain untuk mempergunakan tujuan baik atau buruk. · Kelompok kedua berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanya terbatas pada kaidah keilmuannya tetapi dalam penggunaannya pemilihan objek penelitiannya, kegiatan keilmuan harus berlandas pada asas penilaian yang baik atau buruk dalam etika. Persoalan mengenai nilai etika yang menimbulkan dilemma mana yang baik, benar di sinilah etika memainkan peranan penting mengenai apa yang seharusnya atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik serta apa yang salah dan apa yang benar. Sehingga etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu pengetahuan dalam realisasi pengembangannya.[5] Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan, dapat diungkapkan juga rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan seharusnya bebas. Namun demikian jelaslah kiranya kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Patutlah kita menyelidiki lebih lanjut mengenai kebebasan ini.[6] Etika memang tidak dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak dapat disangkal peranannya dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Tanggung jawab etika, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan itu memperhatikan kodrat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum serta kepentingan generasi mendatang. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan eksistensi manusia bukan menghancurkan eksistensi manusia.[7] Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu. Kemajuan ilmu pengetahuan dengan demikian, memerlukan visi moral yang tepat. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkan namun pertimbangan tidak hanya sampai pada apa yang dapat diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dan ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan yang normatif yang berupa pedoman pengarahan konkret, bagaimana keputusan tindakan manusia di bidang ilmu pengetahuan harus dilakukan.[8] Etika membuktikan kemampuan menyelesaikan masalah konkret tidak sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan faktual manusia, sehingga terjadinya hubungan timbal balik dengan apa yang seharusnya terjadi. Etika berdasarkan interaksi antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang membumi.[9] Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis diterima oleh masyarakat atau individu manusia selaku pengguna atau penerima ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu, sehingga dalam proses pengambilan keputusan karena berpijak pada penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut.[10]
  3. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah ini hubungan antara etika dengan ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan yang bersifat tidak terbatas dalam penggunaannya hendaknya selalu berlandaskan pada etika yang berfungsi memberikan pertimbangan mengenai baik atau buruk, benar atau salah dari pemanfaatan ilmu, maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu pengetahuan dalam realisasi pengembangannya. B. Saran Adapun saran dari kami sebagai pemakalah adalah kiranya mahasiswa dapat menjelaskan hubungan antara etika dengan ilmu pengetahuan.
  4. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir, Ahmad. Kajian Filsafat Ilmu. Cet. II; Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 2002. Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu. Cet. I; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003. Raverz, Jerome R. Filsafat Ilmu Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasa. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1982. Van Melzen, A.G.M. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992. Van Peursen, C.A. Susunan Ilmu Pengetahuan. Cet. II; Jakarta: PT. Gramedia, 1989.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap